JASMIJN (Novel Version)

Rasanya terlalu berat untuk pergi dari Jakarta meski untuk beberapa bulan. Karedok, buah lontar, asinan, dan segala kemacetan yang ada sudah membuat rindu bahkan sebelum ditinggalkan. Hujan memang sudah berhenti, namun aroma tanahnya masih ada. Kata para penyair di berbagai buku, bau setelah hujan dapat membangkitkan kenangan. Akan tetapi, untuk pria yang tidak terlalu romantis sepertiku, hujan yang berhenti bukan meninggalkan harum pengundang ingatan, melainkan menandakan bahwa keselamatan akan ada bersama penerbangan.

Mobil yang kutumpangi baru saja tiba di bandara. Ibu, ayah, dan kakak sudah tergesa menurunkan barang-barang. Maklum, pesawatku akan lepas landas beberapa puluh menit lagi. Sembari menunggu barang-barangku selesai diturunkan, aku mengedarkan pandangan ke seantero bandara. Salah satu kedai roti di dekat pintu keberangkatan terlihat sesak karena ramainya pembeli, berbeda jauh dengan toko roti yang berada di sebelahnya. Di sekitar kedua roti itu terlihat beberapa orang yang saling berpelukan, seakan menandakan ketidaksiapan mereka untuk ditinggalkan kerabatnya.

Pandanganku beralih ke arah seberang jalan. Ada dua orang wanita -tua dan muda- yang hendak menyebrang, mereka tampak tidak saling mengenal. Meski sebelum menyebrang keduanya berdiri sejajar, wanita muda itu berjalan lebih dulu dengan kecepatan pelan sambil menengok ke kiri dan ke belakang secara terus menerus, seakan memastikan bahwa wanita tua di belakangnya menyebrang dengan selamat.

Mataku terus saja memperhatikan gadis yang masih menyeberang. Ia mengenakan kaos hitam polos, celana kapri panjang, tas ransel hitam polos yang terlihat penuh, dan satu koper besar berwarna hitam. Telinganya tersumpal earphone putih.

Perhatianku teralih karena barang-barangku sudah selesai diturunkan. Dan ketika aku melihat seberang jalan atau daerah di dekatku, ia sudah menghilang. Aku tersenyum. Gadis itu menarik.

Aku menunggu mobil ayah berangkat meninggalkan bandara sambil melambai-lambaikan tangan, kemudian berjalan ke dalam untuk melakukan pemeriksan, check in, imigrasi, dan sebagainya.

Senyumku mengembang tanpa sengaja saat mataku menemukan gadis berbaju hitam tadi. Ia duduk sendirian di pojok kiri kursi panjang ruang tunggu sembari membaca buku. Aku baru saja hendak duduk di sebelahnya ketika beberapa gadis lain telah mengisi sisi kursi yang tersisa lebih dulu. Bangku di sebelah kirinya adalah pilihanku.

Selama menunggu penerbangan, gadis itu tidak melakukan apa-apa selain terus mengunyah permen karet dan melahap bacaannya. Matanya tidak pernah terlihat menjelajahi ruang tunggu. Bahkan ia tak pernah mengecek ponselnya barang sekali. Satu jam berlalu, ia masih tetap seperti tadi. Aku menghela napas dan memejamkan mata. Ia memang menarik, tapi mengamati dirinya duduk dan tidak melakukan gerakan yang berbeda dalam enam puluh menit tetaplah hal yang membosankan.

Panggilan untuk para penumpang Singapore Airlines tujuan Singapura membangunkanku. Gadis itu suadah menghilang saat aku membuka mata. Ada sedikit rasa kecewa melihatnya menghilang dari bangku sebelah, dan aku mengabaikan keinginan untuk mencari kehadirannya di antara penumpang yang tengah berjalan ke pesawat.

Kakiku terasa berat saat harus masuk ke pesawat yang akan membawaku ke negara tetangga. Dengan gontai, aku melangkah dan mencari nomor kursiku. Di tengah pencarian, aku menemukan gadis tadi. Ya, perempuan berbaju hitam yang tadi menyeberang jalan dan duduk berdekatan denganku di ruang tunggu. Ia masih terlihat sedang membaca buku sambil tetap membiarkan telinganya disumpal earphone. Dalam hati aku bertanya-tanya mengenai kondisi gendang telinganya dan penasaran akan jumlah judul lagu yang mampu didengarnya dalam sehari. Aku melaluinya dan tersenyum, tapi ia tidak menyadari kehadiranku di dekatnya.

Kursinya ada di baris yang sama denganku. Aku kira kami akan duduk bersebelahan. Sedihnya, perkiraanku salah. Kami dipisahkan oleh lima bangku, ia di kanan dan aku di kiri.

Sepanjang perjalanan, aku terus mengamatinya. Ia masih membaca meski sesekali menekan-nekan iPod-nya, ia hanya minum jus jeruk dan mengabaikan makanannya, dan ia sama sekali tidak beranjak dari kursi.

Ketika pesawat kami mendarat di Singapura, aku masih melihatnya berkemas. Ia menanggalkan earphone dan memasukkan barang-barangnya ke dalam ransel hitam miliknya. Kemudian, ia ikut berdiri dan mengantre untuk turun. Aku berada tepat di belakangnya. Setelah aku menginjakkan kaki di Changi, ia sudah lenyap dan meninggalkan aroma musk di kepalaku.

Bertemu satu atau dua kali dengan orang yang sama di tempat berbeda mungkin adalah sebuah kebetulan. Tapi, apa masih pertemuan ketiga di hari yang sama adalah sebuah kebetulan? Entahlah. Aku rasa mungkin bukan hanya gadis itu yang satu penerbangan denganku hingga ke Belanda. Bisa saja ada beberapa pria atau wanita lainnya yang sebenarnya sudah mengamatiku sejak di Soetta, Changi, hingga Schipol nanti seperti aku mengamati gadis berbaju hitam yang sekarang duduk di sebelahku dalam penerbangan panjang kami ke Belanda.

Perkiraan dan kejadian yang aku reka dalam kepalaku ternyata salah. Ia tidak mengajakku berbicara, menanyai asalku, atau ke mana tujuanku setelah tiba di Belanda nanti. Gadis berbaju hitam tadi memilih menonton film sambil mengenakan earphonenya ketimbang mengamati penumpang di sampingnya. Di menit kesekian puluh, saat jam tanganku menunjukan waktu larut malam di Indonesia, Ia sudah terlelap sepanjang penerbangan. Ia hanya bangun sekali untuk makan dan minum lalu tidur lagi.

Aku tertawa miris dalam hati, menertawai seberapa parahnya takdir mengecewakanku dan merutuki kemampuanku dalam membuka percakapan dan berkenalan dengan orang asing di sebelahku. Aku ikut memejamkan kepalaku dan berharap penerbangan ini segera usai.

Entah apa yang aku lakukan sebelum membeli kopi dan berjalan ke luar Schipol. Hal yang masih aku ingat dengan baik adalah sepuluh menit yang aku habiskan untuk memandangi seorang gadis yang tampak kedinginan dan terlihat mencari sesuatu di kantong jaketnya pun di ranselnya. Gadis yang sama dengan sebelumnya, gadisku.

Setelah menimbang berkali-kali sembari menguatkan rasa kepercayaan diriku, aku melangkahkan kakiku ke arahnya.

“Aku rasa kamu orang Indonesia. Jadi aku berbicara menggunakan bahasa Indonesia saja. Apa ini kepunyaanmu? Kamu meletakkannya di pangkuanku sewatu tertidur di pesawat.” Ucapku sambil menarik tasnya, menahan ia tetap tinggal sejenak.

Gadis itu terdiam sebentar dan menatapku lekat-lekat “Ya, aku orang Indonesia dan itu kepunyaanku. Terima kasih.”

“Ada apa?” tanyanya, melihatku tidak kunjung pergi meski telah mengembalikan sarung tangannya.

Aku terdiam sejenak. Mencari alasan lain agar ia tidak pergi begitu saja dan mengakhiri pertemuan kami selamanya. “Ke mana tujuanmu?”

Ia tidak langsung menjawab dan mengernyitkan dahinya.

Tanganku gemetar, seluruh sendiku lemas, dan aku tidak tahu bagaimana cara untuk menahannya lebih lama lagi. “Aku tidak tahu ke mana tujuanmu, tapi kalau kamu berencana pergi ke Leiden, kita bisa patungan naik taksi atau pergi naik metro bersama. Aku tidak punya penjemput, belum paham naik metro, dan tidak punya rencana untuk tersesat di hari pertama. Percayalah aku bukan orang jahat. Aku hanya anak manusia yang berencana menghemat beberapa puluh euro.”

Gadis yang setelah itu kuketahui benama Melati itu memutuskan untuk percaya padaku atau lebih tepatnya memilih berbagi tagihan taksi agar ia bisa berbelanja lebih banyak di negara ini.

***

Melati adalah mahasiwi pascasarjana jurusan sastra di Leiden University yang selalu membawa tumblr berisi segelas teh susu dan setangkup roti keju setiap pagi. Rambutnya tak pernah tergerai. Ia selalu membiarkan rambutnya berkumpul dalam satu ikatan yang rapi. Ia juga selalu mengenakan sepatu bertali hitam dan ransel hitam.

Ia punya banyak teman sehingga mendekatinya perlu usaha yang cukup lama. Aku hampir tidak pernah melihatnya berjalan sendirian atau duduk tanpa teman. Ia dan dunianya memang terasa menyenangkan untuk banyak orang, termasuk untukku.

Satu-satunya alasan yang membuatku sering bertemu Melati adalah kami berasal dari negara yang sama. Aku sering kali mengajaknya pergi ke restoran Indonesia dengan dalih melepas rindu akan rumah, meski terkadang aku hanya duduk di sana tanpa melahap makananku dengan antusias. Melihatnya mengunyah lahap sampai pipinya menggembung penuh terasa cukup.

Satu bulan berselang dari pertemuan pertama, kami menjadi dekat dan dia menganggapku sahabatnya. Anggap saja seseorang yang dipercaya untuk menjaganya serta berbagi suka dan duka. Meski aku berharap lebih, aku menghormati keputusannya dan bergerak perlahan. Aku tidak pandai merayu, membuatkannya berbagai hal lucu, membelikannya bakmie kesukaannya di Jakarta, atau membuatkannya tugas cerita pendek. Aku lelaki yang memiliki dunia berbeda dengannya. Aku laki-laki yang hanya bisa memastikannya sarapan, mengajaknya makan siang, dan menemaninya berjalan pulang setiap hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s