Bahagia Bukan Soal Cinta

“Selain pisah, kita juga perlu mencari cara agar kita bisa bahagia tanpa saling membenci.”

 

Saya jatuh cinta pada seorang pemuda dari Pulau Sumatera. Ia hitam manis dengan suara keras yang membakar gairah. Kami berbeda, jauh sekali. Sampai-sampai kedua orangtua saya bertengkar hebat saat rencana menikah mulai kami susun diam-diam.

Sudah saya bilang pada Papa kalau ia bersahaja meski berbeda. Adi juga menyayangi saya lebih dari apapun juga. Akan tetapi, Papa seperti tuli, ia tidak pernah mendengarkan. Hingga suatu hari, saya disuruhnya memilih keluarga atau cinta. Dan pilihan saya jatuh pada nomor dua.

Bahagia. Iya, saya bahagia untuk beberapa lama. Kami berdua bak pangeran dan tuan puteri yang hidup dalam istana. Sayang, bahagia tak melulu soal cinta. Kami lupa bahwa sesungguhnya banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum bersama. Entah itu uang atau cemburu buta. Adi tidak suka jika saya bekerja meski kerja adalah salah satu jalan untuk kami hidup bersama.

Adi tidak suka saat saya bermain bersama teman lelaki saya, ia tidak suka pada pekerjaan saya, ia juga tidak suka jika saya pulang larut malam. Akan tetapi, ketidaksukaannya akan bertambah jika saya dan rekan kerja (pria) terlibat dalam tugas yang sama hingga malam.

Saya ingat sebuah malam di mana Adi mengamuk hebat saat saya diantar pulang oleh Lukman, rekan kerja saya. Ia menampar pipi saya cukup keras berkali-kali sambil memaki dengan kasar. Puluhan kali saya mengiba agar ia mau mendengarkan dan berhenti mengatai saya jalang. Seperti kesetanan, ia tidak berhenti mengayunkan tangannya hingga sudut bibir saya lebam dan berdarah. Setelah melihat kondisi wajah saya yang cukup serius, ia memeluk saya erat, meminta maaf berulang-ulamg, lalu mengambil es batu untuk mengompres memar. Sayang, ia lupa jika ada yang tak bisa sembuh meski sudah dikompres berkali-kali; hati.

Adi juga pernah marah sambil memukuli saya dengan gagang sapu karena ia melihat foto saya bersama beberapa teman sekantor. Saya tersenyum bahagia di sana. Entah apa yang membuatnya marah, cemburu atau melihat saya bahagia tanpa dirinya.

Kemarin, saya dibangunkan dengan cumbuan lelaki lain. Saya berteriak histeris dan memohon diselamatkan dari bajingan yang tiba-tiba masuk ke kamar tanpa permisi. Serabutan saya menghapus air mata sambil terus berteriak mengalahkan hujan. Mata saya menangkap sosok Adi di sudut pintu, ia tersenyum sambil mengucapkan jalang. Ia tertawa bahagia. Saya baru kali itu melihatnya sebahagia itu. Saya pasrah, kali ini saya membiarkannya bahagia. Selepas ini, kami pisah. Persetan dia akan bahagia lagi atau tidak. Satu hal yang pasti, saya ingin bahagia meski tanpa dia dan kalau bisa tanpa perlu saling membenci.

Advertisements

2 thoughts on “Bahagia Bukan Soal Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s