Cerita Kopi Susu

“Ia layaknya pemuda biasa yang selalu merokok setiap senggang. Ia tidak tinggi pun tidak terlalu tampan. Ia tidak rajin sholat tetapi selalu puasa tiap Ramadhan. Ia tidak suka sayur dan mencintai makanan tidak sehat. Ia jarang minum air putih dan suka sekali pada coffee latte. Ia pemuda biasa. Ia tidak terlalu sederhana juga tidak terlalu banyak gaya. Ia sangat mencintai ibunya.”

Ada seorang pria. Kami bertemu tanpa sengaja di perpustakaan kampus yang lengkap dengan café dan beberapa tempat belanja. Saat itu kami sedang sama-sama menikmati kopi. Ia duduk di luar café bersama satu gelas plastik berisi latte. Dalam kurun waktu lima menit, ponselnya nyaris terus bergetar tanpa jeda. Ia hanya melirik sekilas kemudian menghisap rokoknya lebih dalam.

Kami duduk berhadapan cukup lama. Selama itu, aku pura-pura sibuk membaca buku sembari memperhatikan rokoknya satu demi satu. Ia tidak pernah beranjak barang semenit. Ia tidak beranjak ketika gerimis turun. ia tidak beranjak saat angin bertiup kencang dan membuat dahan bergemuruh. Ia tidak beranjak pergi meski gelasnya sudah beralih fungsi menjadi asbak. Bahkan, ia tidak juga beranjak setelah seorang gadis tanpa sengaja menumpahkan air mineral di dekatnya. Ia hanya duduk di sana sambil terus menghisap rokoknya.

Tugasku sudah selesai dan ia masih di sana dengan rokoknya yang entah ke berapa. Aku hampir beranjak pulang dan melambaikan tangan diam-diam saat hujan tiba-tiba turun dengan deras. Orang-orang menghambur masuk ke dalam dan bersenda gurau bersama ratapan mereka yang harus mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu dalam café. Dan pria itu tetap duduk di tempatnya. Ia tetap menghisap rokoknya yang mati terkena tetesan air. Ia seakan tidak peduli pada orang-orang yang mulai membicarakannya diam-diam.

Hujan semakin lebat dan orang-orang mulai lelah memperhatikan apa yang dilakukannya. Akan tetapi, aku tidak. Mataku tak pernah lepas menatapnya. Aku bisa melihat punggungnya gemetar dan bibirnya bergemeletuk. Ia menangis dan kedinginan. Hujan menyamarkan tangisannya. Hujan menjaga harga dirinya sebagai laki-laki.

Saat hujan berhenti, aku melihatnya menghapus air yang membekas pada wajahnya. Ia juga menatapku heran saat aku mengulurkan satu kaos hitam polos yang baru aku beli dari minimarket dekat café. Ia tidak tersenyum pun tidak menolak. Ia menerima kaos itu dan menatapku lekat sembari berlalu pergi.

Aku tidak pernah melihatnya cukup lama. Hingga pada suatu senja, ia duduk di sebelahku sambil mengulurkan segelas kopi susu. Kami tidak berbincang. Kami hanya duduk dan menikmati sunyi. Saat malam, ia mengantarkan aku pulang dengan motornya. Tanpa helm, tanpa jaket, dan tanpa penghalang untuk menautkan hatiku di punggungnya.

Kami bertemu setiap hari setelah itu. ia selalu menjemput dan mengantarkan aku. Aku merasa dirinya orang yang tepat untuk diajak berbagi beban dan kebahagiaan. Ia pun sepertinya merasa demikian. Kami selalu bercerita dan berbagi tentang apa saja. Aku mengenalnya sebaik aku mengenal diriku sendiri. Aku memujanya hingga aku lupa dengan kenyataan bahwa hati bisa patah kapan saja. Hingga suatu senja yang lain, aku tahu bahwa ia hanya mencintai laki-laki.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s