One-Month Stand

“Untuk pria di penerbangan QG-691 DPS-CGK: Terima kasih karena telah membangkitkan keinginan saya untuk menulis.”

Luna tidak ingat berapa banyak Gordon’s Gin yang ia minum semalam. Ia juga tidak ingat berapa digit nominal yang hilang berkurang dari limit kartunya. Ia tidak ingat apapun. Satu-satu hal yang masih ia ingat dengan jelas adalah sakit hatinya.

Ia sudah menghabiskan tujuh hari enam malamnya di Bali dengan membuat kepalanya pening setiap pagi. Bar yang sama setiap hari, puluhan gelas minuman pahit, namun ia tetap tidak kunjung bisa menghapus kenangan manis yang justru membuatnya terus ingin menangis.

Luna mengerang, memegang kepalanya. Bahkan saat ia meringis menahan sakit kepala, luka itu tidak kunjung pergi. Ia mengambil sebotol air mineral, kemudian merogoh laci nakasnya, mencari energy bar dan aspirinnya. Dengan mata terpejam, ia mengunyah, dan menelan dua tablet aspirin sekaligus.

Setelah memastikan bahwa dirinya tidak akan jatuh saat bangun, Luna beranjak dari tidurnya, ia memutuskan untuk segera pergi ke mana pun.

Bali tidak begitu ramai, bahkan Kuta yang biasanya ramai terlihat agak sepi. Luna menandaskan dua scoop gelato yang dibelinya sambil mengamati langit. Ia tidak pernah punya waktu untuk melihat langit Jakarta. Sekalinya melihat langit, yang ia lakukan hanyalah memeriksa hari ini cerah atau hujan. Ia cukup memeriksa jadwal dan alarm ponselnya untuk tahu apakah ini waktunya bangun atau istirahat.

Ponselnya bergetar. Sudah delapan hari ia tidak membaca satu pun pesan yang bertumpuk di layar. Ia hanya meliriknya sekilas dan mematikannya. Siapa pun yang mencarinya seharusnya tidak perlu khawatir, sebab tidak akan ada hal yang lebih buruk dari sakit hatinya, toh bagaimana pun kepedulian semua orang itu, Luna tidak akan pernah baik-baik saja.

Seakan paham bahwa hatinya sedang berkabung, Kuta mendadak mendung. Tak lama, hujan deras mengguyur. Wanita itu tidak beranjak dari duduknya. Ia tidak peduli ujung rambut hingga ujung kakinya basah. Ia juga tidak peduli pada ponselnya. Tidak ada yang perlu diselamatkan, bahkan dirinya sendiri.

Lelah terlalu lama duduk, Luna berjalan menyisiri pantai dengan pakaian yang basah dan bertelanjang kaki. Ia kedinginan, perutnya sakit, dan mulutnya terasa sangat asam. Sudah beberapa hari ini ia tidak makan dengan teratur. Hanya beberapa energy bar dan aspirin setiap pagi, gelato dengan wafel atau cone setiap siang, dan nachos atau taco setiap malam. Tubuhnya mulai mengigil, kepalanya mendadak terasa sangat pening. Tidak ingin terkapar dan jadi tontonan, Luna bergegas kembali ke hotelnya.

Nasi goreng yang dipesannya di hotel datang tepat setelah Luna selesai mengeringkan rambutnya. Wanita itu hanya memakannya beberapa suap dan meletakan piring di lantai. Setelah menandaskan sebotol kecil air mineral, Luna mengganti pakaiannya, mengantongi kartu kreditnya, dan meninggalkan kamarnya lagi.

Luna tidak bisa mengingat nama bar yang sudah delapan hari ini ia datangi. Dari sekian banyak bar dengan berbagai musik di sepanjang jalan Legian, pilihannya jatuh pada bar ini. Bukan karena besar dengan tiga lantainya yang luas-luas atau karena minumannya dijual dengan harga yang lebih murah, Luna memilih bar ini karena terhitung lebih sepi daripada yang lainnya.

“Gordon’s Gin, Mbak?” Tanya pramuniaga yang menghampirinya di pojok ruangan.

Luna tersenyum, pria itu orang yang melayaninya dua dan empat malam yang lalu. Ia kemudian mengangguk. “Iya. Tujuh, ya.”

Tujuh berganti menjadi sembilan, dan sembilan berganti menjadi sebelas. Setelah sebelas, Luna tidak lagi ingat pada hitungannya. Di gelasnya yang entah ke berapa, seorang pria berambut pirang mencium bibirnya tanpa permisi dan mengajaknya berdansa. Ia baru saja akan mengikuti pria itu saat pramuniaga yang melayaninya meminta ia membayar tagihannya terlebih dahulu.

“Maaf, Mbak, declined.

“Coba lagi aja, Mas. Jangan bohong, nggak bagus, lho.”

Pria di kasir itu tersenyum sopan menyadari bahwa pelanggannya sudah mabuk kemudian mengembalikan kartu Luna. “Ada kartu lain? Atau mau cash aja, Mbak?”

“Hehehehe saya tinggal di hotel kartu lainnya. Ikut saya ke hotel ambil dulu, gimana?”

“Mbak…”

Seorang pria berkulit sawo matang datang, memapah Luna. “Use this card, please.”

Who are you? Do I know you?”

Pria itu tertawa. “Yes, we met in the sky.”

Luna menyipitkan matanya. “No idea. Are you an angel? Am I already die?”

Tawa laki-laki itu betambah keras. “Not yet. Let’s go.”

Luna terlalu pusing untuk memahami apa yang terjadi. Pria itu membayar tagihannya yang lebih dari dua juta rupiah, mengusir pria bule yang kembali mengajaknya berdansa tadi, dan membawanya pergi dari bar.

where are we going?” Tanya Luna lemah. Ia tidak takut diculik. Ia hanya begitu lelah.

Pria itu mendorong Luna masuk ke taksi sebelum berkata “Bed.”

Wanita itu memang mabuk. Tapi ia masih sedikit sadar sewaktu dirinya dituntun untuk masuk ke sebuah kamar besar dengan dekorasi krem dan cahaya yang remang. Pria itu menggulung lengan kemejanya saat Luna sibuk mengamati lukisan di dinding kamarnya. Setelah lengan kemejanya tergulung sampai siku, pria itu mendekati Luna.

Bukannya menghindar, Luna menciumi pria itu dengan penuh gairah. Di bawah lampu remang, meskipun ia tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas, Luna tahu bahwa pria di depannya sangatlah seksi.

Pria itu nampaknya tidak keberatan dengan apa yang dilakukan Luna. Ia membalas ciuman Luna dengan lebih bergairah, sesekali ia menggigit bibir Luna pelan. Ciuman bibir itu disertai dengan elusan ke seluruh tubuh Luna, wanita itu mendesah kemudian mengecup seluruh bagian tubuh pria itu yang terbuka.

Di sela deru napasnya Luna menatap pria itu. “I like clean man. Mau mandi dulu?”

Pria itu mengerang. “Fine. Aku mandi dulu.”

Aldric, pria itu, mandi secepat apapun yang ia bisa. Dia sudah sebegitu turn on-nya dan wanita yang jelas-jelas melupakannya malah memintanya mandi terlebih dahulu. Ia menyabuni badannya sambil mengeleng-gelengkan kepala. Bahkan yang bibirnya tercium bau alkohol dari jarak 5 meter adalah wanita itu, bukan dirinya. Aldric bahkan belum sempat menghabiskan Chivas-nya saat melihat wanita itu kebingungan di kasir.

Sembilan menit berlalu. Aldric telah selesai mandi dan mengambil pengaman dari kantong celana yang dipakainya. Sayang, setibanya di kasur, wanita yang diselamatkannya dari tagihan dan kartu decline-nya malah berkata.

I’m not in a good mood for having sex. Can we just cuddle?”

Bukannya marah, Aldric mendengus geli. Ia mengenakan boxer brief dan menuruti kemauan wanita itu, Luna.

 

Advertisements

One thought on “One-Month Stand

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s