Rumah untuk Ibu

“Ibu ingin punya rumah baru. Karenanya aku berkelana, mengelilingi Jakarta, mencari rumah yang terluas, punya halaman yang lapang, dan jauh dari gaduh.”

Namaku Khadir, seorang yatim yang hanya meyayangi ibunya. Sebab, aku sudah tidak punya ayah sejak umurku menginjak lima. Ibuku seorang pengusaha, ia menjadikan limbah sebagai tambang emas yang dijual kepada orang kaya. Bicara tentang Ibuku, aku jadi ingat keinginannya akhir-akhir ini. Ia ingin sekali pindah rumah.

Rumah kami yang sekarang sebenarnya sudah cukup nyaman untuk ditempati berdua. Akan tetapi, baru-baru ini, Ibu merasa pembangunan jalan sangat menganggu tidurnya. Bunyi besi, aspal, adukan semen, dan yang lainnya membuat ibu terjaga setiap malam. Padahal, seharusnya ibu tidak boleh kurang tidur. Pagi-pagi, sebelum fajar, ibu sudah bekerja. Kata ibu, dinginnya fajar membuatnya lebih bersemangat dan giat untuk bekerja.

Hari ini aku memutuskan untuk mengilingi Jakarta sejauh yang kumampu, mencari rumah untuk ibu; yang paling luas, punya halaman lapang, dan jauh dari gaduh. Aku menaiki kendaraan roda dua kesayanganku. Kupacu kecepatannya sampai maksimal agar aku bisa menemukan rumah baru hari ini juga.

Mencari rumah ternyata cukup sulit, tidak semua kriteria ada pada satu rumah, dan kriteria tersulit adalah gaduh. Jakarta sangat bising. Raungan kendaraan bermotor atau bunyi bising proyek pembangunan hampir bisa kutemui di setiap rumah. Kepalaku pusing. Aku ingin pindah rumah secepatnya. Aku ingin ibuku bisa tidur nyenyak.

Sayang, aku tidak bisa terlalu lama mencari sebab hujan turun deras dan aku lupa bawa jas hujan. Aku tidak boleh kehujanan karena tidak ingin jatuh sakit, ibu bisa kerepotan mengurusku nanti. Di sebuah sudut bangunan kuno, aku berteduh sambil mengamati jalan. Di hadapanku, beberapa anak kecil menjajakan jasa mereka, menawarkan payung dengan imbalan seadanya. Kasihan. Mereka bisa saja terkena flu, namun sepertinya itu bukan perkara yang lebih besar dari uang. Aku beruntung, aku tidak perlu melakukan itu, sebab ibuku cukup kaya.

Hujan berhenti dan aku bergegas pulang. Aku mengambil jalan yang berbeda dari sebelumnya, mungkin saja di sudut jalan sana kutemukan rumah kosong yang pas. Tuhan memang Maha Baik. Aku menemukan rumah yang cocok untuk ibu. Luas sekali, banyak tanah kosong, dan tidak terlalu gaduh. Setelah kupastikan kalau rumah itu tidak berpenghuni, aku tersenyum lebar. Ibu pasti suka.

Dugaanku benar. Ibu suka akan rumah baru kami. Ia menyiapkan segalanya kemudian mengemas barang. Barang bawaan kami memang tidak banyak hanya satu kardus sedang. Ibu menyuruhku pergi ke rumah baru kami lebih dulu, ia memintaku untuk membersihkan tempat itu dari debu.

“Dir, copot itu akua dari sepedamu. Ngerusak ban, lho, itu!” Lagi-lagi Ibu mengeluhkan raungan kencang kendaraanku.

“Biarin, Bu. Cepetan ya, bu, bawa tempat tidurnya. Aku ngantuk.”

“Cari aja kardus baru di hasil mulung Ibu tadi. Kardus tidurmu udah jelek. Cepet bersihin itu kolong jembatan, jangan sampai ada tai kucing.”

“Oke. Aku duluan pindah, ya, Bu!”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s