Cerai (?)

Aku tidak bahagia dengan pernikahanku. Rumah tangga yang sudah kubina tiga tahun terakhir ini tidak membuatku bahagia sama sekali, melainkan membuatku menderita. Tidak saat aku gagal ujian masuk kampus dan harus bekerja paruh waktu agar bisa membayar kuliah di kampus swasta. Tidak saat aku harus cuti kuliah karena hamil. Tidak saat aku keguguran. Aku tidak pernah semenderita ini sebelumnya.

Suamiku tidaklah kasar. Ia cukup baik dan memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami meski ia tidak pernah lagi meniduriku selain di malam pertama kami. Tiap bulan dia mengirimkan aku beberapa juta untuk hidup. Ia juga memberikan aku izin tinggal di rumah yang masih atas namanya. Di garasi ada satu mobil SUV lengkap dengan supir yang bisa mengantarkan aku ke mana saja. Ya, aku bisa pergi ke mana saja dan tinggal dengan nyaman. Tapi aku tetap tidak bahagia.

Aku ingin minta cerai. Akan tetapi, kalau aku nekat melakukan itu, keluargaku bisa murka dan mengusirku dari rumah. Kata mereka, pernikahan adalah hal yang sakral dan hanya pantas terjadi satu kali. Cerai berarti menorehkan malu di muka keluarga besar. Dan ayah serta ibuku tidak siap untuk itu. Kata ibu, aku boleh mencintai pria lain, menidurinya, atau melakukan apa saja yang aku suka asal aku tidak bercerai. Malu karena selingkuh tidak akan pernah sama dengan malu sebagai seorang janda muda yang tidak ditinggal mati suaminya. Itu kata Ayah. Kata adikku, cerai sama saja mengubah duniaku menjadi seorang pekerja yang membiayai hidupnya dengan serba kurang.

Mungkin keluargaku benar. Aku harus mencari bahagiaku tanpa bercerai. Aku putuskan untuk mencari cinta dari pria lain tanpa harus kehilangan kenyamanan dan uang bulananku. Aku akan bercinta dengan laki-laki tanpa sepengetahuan suamiku. Bahagiaku memang tidak terang-terangan, tapi biarlah, yang penting aku bisa bahagia.

Aku putuskan untuk mencari pria lain yang lebih muda dari suamiku. Aku tahu kontaknya dari supir kolega istri teman suamiku. Kami janjian di sebuah hotel bintang lima. Ia tampan, manja, supel, dan ramah. Aku tidak mencintainya, tapi menghabiskan waktu bersamanya adalah hal yang cukup membahagiakan. Selepas siang itu, aku selalu mengontaknya setiap mungkin dan sengang. Suamiku tidak tahu. Dia tidak akan pernah tahu, sebab aku selalu membayar tagihan kamar dan tagihannya dengan uang tunai. Aku bilang saja uang bulanan habis karena memberikan uang bulanan lebih untuk keluargaku. Ia tidak marah, malah menambah uang bulananku dua kali lipat.

Hingga suatu hari, saat aku menemani ibuku ke rumah sakit, aku menemukan dua punggung yang kuhapal dengan baik. Punggung-punggung yang pernah menyelimutiku di satu atau dua malam. Punggung suamiku dan pria yang aku tiduri beberapa waktu lalu. Mereka duduk bersebelahan, tertawa lepas, sesekali saling menggengam tangan diam-diam, dan tampak bahagia. Kebahagiaan mereka menular. Aku ikut bahagia. Setidaknya meski kami tidak bercerai, aku tahu bahwa kami tidak akan saling menyakiti lagi. Aku akan merelakan pria itu dan mencari bahagiaku lagi lain waktu. Aku membiarkan suamiku bahagia. Aku membiarkan suamiku bersama orang lain tanpa perlu bercerai.

Photo by Mel (melatidiran.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s