Aku Tidak Akan Menikah

“Aku tidak ingin menikah, tidak sekarang. Tidak esok lusa. Tidak bulan depan. Tidak tahun depan. Tidak sampai kapan pun. Kecuali aku sudah mati dan masih dipaksa untuk menjadi seorang istri.”

“Sundal kamu, Kenanga! Sudah Ayah jodohkan kamu dengan calon bupati, kamu masih saja menolak menikah. Dia masih bujang, Anak Sundal! Aku tak masalah kalau kau menolak aki-aki bangkotan yag punya dua hektar tanah itu. Istrinya sudah tiga dan kita jauh lebih kaya dari mereka. Tapi ini calon bupati yang jauh lebih kaya dan lebih terhormat dari keluarga kita, Kenanga!”

Aku menutup telingaku rapat-rapat. Bukan cuma kali ini ayah memakiku dengan sebutan sundal atau yang lebih parah sekalipun. Biarlah, toh ia tetap memberikanku makan dan tetap mencari pria mana yang masih menginginkanku menjadi pasangan mereka. Ibu akan dengan sabar duduk di kamarku sembari menenangkan aku. Beliau akan datang membawakan aku susu cokelat hangat dan melindungiku kalau-kalau ayah belum puas mengomel dari seberang ruangan.

Tidak. Aku benar-benar tidak ingin menikah. Tidak sampai kapanpun. Itu bukan hanya sekadar kalimat. Itu adalah mantera yang aku rapalkan tiap waktu dan aku selalu bertambah kuat karenanya.

Ayah sempat menganggapku kerasukan saat aku pulang ke rumah dan menolak perjodohan yang ia atur sedemikian rupa. Ia juga pernah menuduhku homo dan memaksaku menyebut satu nama perempuan yang membuatku begini. Bahkan, suatu hari, ia pernah mengancam akan meniduriku agar aku tahu betapa nikmatnya tubuh laki-laki. Ia sudah gila. Tapi aku tidak. Aku tak akan membiarkan dia memporak-porandakan mimpi yang aku susun sedemikian tingginya.

Kebetulan aku tidak pernah kerasukan, menyukai pria, dan aku tidak butuh diajari ayah bagaimana merasakan nikmatnya bersenggama sebab aku sudah pernah. Aku tidak ingin menikah bukan karena aku tidak mencintai laki-laki. Aku hanya tidak ingin nasibku sama dengan ibu.

Ibuku istri pertama yang dinikahi ayah. Selang beberapa tahun menikah, setelah melahirkanku dan tak kunjung punya anak lelaki, pria brengsek yang kusebut Ayah itu menikah lagi dengan seorang gadis dari desa seberang. Gadis itu memberikannya dua anak laki-laki kembar. Awalnya aku kira ayah akan bahagia dan berhenti menikah lagi. Tapi perkiraanku salah. Ayah tetap menikah untuk yang ketiga kalinya dengan alasan ia mencintai calon istrinya. Pernikahan pun digelar dan aku melihat ibuku menangis di dalam kamarnya. Ibuku sudah tidak pernah ditiduri pria itu sejak ia menikahi istri keduanya. Bajingan tua itu tidak pernah pulang atau memberikan uang sekolahku. Ibu mencari uang dengan berjualan apa saja memutari kampung setiap pagi.

Suatu hari, istri ketiga bajingan tua itu pergi bersama kekasihnya. Kepergiannya membuat Ayah jatuh sakit. Bukan karena ayahku teramat mencintai wanita itu, hanya saja wanita tersebut membawa harta-harta ayah. Mulai dari uang tunai, beberapa surat tanah, dan emas batangan. Ayah hampir gila. Ia ditendang keluar dari rumahnya sendiri oleh istri keduanya. Ia hanya punya delapan petak sawah yang dijadikan bahan rebutan oleh anak lelaki kembarnya.

Ayah pulang pada ibuku dengan tangan kosong dan minta pengampunan. Ibuku yang tidak tamat sekolah itu mengampuninya, memberikan kembali singasananya di rumah kami. Ia kembali menjadi raja dan mengambil uang ibu sebagai modalnya di meja judi. Ibu tak pernah marah jika bajingan itu kalah judi dan menghabiskan modal jualan ibu. Ibu juga tak pernah marah ketika bajingan itu pulang ke rumah dengan keadaan mabuk dan muntah-muntah. Ibu bahkan tak pernah marah ketika ayah pulang dengan bekas gincu di sekujur tubuhnya.

Tapi aku bukan ibu. Aku tak akan membiarkan diriku bernasib serupa. Aku tak akan menjadi babu dan menjadikan pria sebagai raja yang berkuasa atasku dan calon anakku. Tidak. Aku tidak akan menikah. Aku tidak akan mau dimadu. Tidak. Aku tidak akan menikah. Aku lebih baik menjadi sundal ketimbang menjadi istri yang kepalanya diinjak-injak suami. Tidak. Aku tidak akan menikah. Aku tidak akan menjadi seperti ibuku.

 

Advertisements

3 thoughts on “Aku Tidak Akan Menikah

    1. Halo, Skolastika! Terima kasih sudah mampir dan berkenan membaca. Menjawab pertanyaan kamu, ya, untuk sebagian orang, termasuk untuk tokoh cerita, menikah itu menyedihkan. Namun, nggak sedikit yang bilang menikah itu menyenangkan. Semuanya, baik menikah atau tidak, adalah pilihan kamu; mencintai dengan ikatan atau mencintai dengan kebebasan. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s