Gadis yang Tidak Lagi Menyukai Mawar dan Hujan

Kina benar-benar sudah berubah. Seluruh keluarganya dibuat bingung. Pasalnya, sejak beberapa bulan lalu ia berbalik membenci apa yang biasanya ia sukai. Ibunya berulang kali menanyakan apakah ia merasakan nyeri atau sakit pada anggota badannya dan berulang kali pula gadis itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Beberapa waktu lalu, gadis itu sempat dibawa paksa ayahnya ke dokter. Akan tetapi, jawaban dari dokter membuat keluarganya tambah pusing. Kina tidak mengidap sakit apapun.

Gadis itu tidak lagi menyukai bunga mawar. Padahal, sejak kecil, ia gemar menciumi harum mawar merah, lebih-lebih jika mawar itu berasal dari pekarangan rumahnya sendiri. Bahkan, dua minggu lalu, ia menyuruh ibunya membuang semua bunga mawar yang ada di pekarangan belakang rumahnya. Ibunya yang sedang makan saat Kina berbicara pun kaget dan tersedak. Bukannya apa-apa, tahun lalu, saat seluruh keluarga besar singgah di rumahnya, Kina marah besar karena salah satu sepupunya tidak sengaja merusak beberapa kelopak bunga mawarnya yang masih kuncup. Jika rusak saja ia murka, mengapa tiba-tiba ia ingin seluruh mawarnya dihilangkan?

Kalau saja Kina menyuruh tanaman mawarnya disingkirkan karena alasan tidak ada lagi tempat untuk menjemur baju, ibunya akan dengan senang hati mencabuti dan membuang semua mawarnya. Ibunya masih hapal betul kegiatan Kina setiap sore, sepulang dirinya sekolah atau les, Kina akan menyemprot bunga-bunganya dengan penuh kasih sayang dan meastikan pupuknya ditakar dengan sempurna. Kalau bunga-bunganya sudah merekah, hanya diri Kina yang boleh memotong tangkainya dan memastikan kelopak itu tetap indah. Bunganya tidak boleh disentuh orang lain.

Bukan hanya Ibu yang dibuatnya bingung, Ayah juga ikut-ikutan bingung. Sore ini hujan turun dengan deras dan Kina tetap duduk di ruang keluarga, sibuk membaca buku. Teliganya disumpal earphone putih, segelas kopi hitam dan sepiring bolu cokelat ada di dekatnya. Ayah melihat Kina sempat melirik jendela yang tertutup dan menatap hujan sebentar kemudian ia kembali membaca. Aneh. Kina biasanya akan langsung berlari di bawah hujan atau membuka jendela lebar-lebat kalau ia sedang malas mandi. Apabila Ibu mulai marah dan memaksanya menutup jendela karena air mulai membasahi rumah, Kina akan menutup jendelanya dengan bersungut-sungut dan membukanya lagi setelah hujan berhenti. Gadis itu suka hujan dan aroma yang ditinggalkan setelah hujan.

Ayahnya masih ingat hujan pertama yang dinikmati Kina. Di pertengahan September saat usianya tiga tahun, Kina memaksa keluar dan berlari di bawah hujan. Gadis itu tertawa dan terus bermain di bawah hujan sampai Ayah menariknya masuk. Setelah hujan pertama itu, Kina selalu berlari saat hujan mulai turun, ia akan membiarkan setiap pori-pori kulitnya basah hingga putih pucat dan mengeriput. Jika Kina sedang sakit dan hujan turun, ia akan membuka jendela kamarnya lebar-lebar, mengulurkan hari-jari tangannya, dan membiarkan hujan membasahi jiwanya lewat ujung jarinya.

Kedua orangtuanya tidak tahu bahwa Kina sedang mengubur dukanya rapat-rapat. Kematian pamannya bulan Juni lalu belum dapat ia lupakan. Kina masih belajar merelakan kepergian seseorang yang dekat dengannya. Gadis itu tidak lagi menyukai mawar dan hujan karena keduanya mengingatkannya pada wangi kuburan dan kematian yang mungkin saja menjemput anggota keluarganya yang lain hari ini. Sambil memejamkan matanya dan mengeraskan suara musik yang diputarnya, Kina menutup matanya sampai hujan pergi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s