Aku Tidak Kehilangan Rasa Kemanusiaan Sendirian

Pada suatu sore, ada seorang gadis yang duduk di depan rumah kosong sendirian. Ia sibuk memainkan pasir di bawahnya. Matanya berkilat-kilat, bibirnya gemetar, dan tangannya tak pernah berhenti bergerak. Ia seperti ketakutan, serupa dengan seorang anak yang takut pada ayahnya.

Aku menatap gadis itu dari sudut jendela kamarku dan diam-diam menamainya dengan gadisku. Matanya hitam pekat, tubuhnya padat berisi, dadanya membusung indah, bibirnya tebal merah merekah, dan ia punya sepasang betis yang indah. Gadisku tidak melakukan apa-apa selain memainkan tanah dengan tangannya yang semakin kotor.

Tiba-tiba saja hujan turun dengan deras. Ia bangkit dari duduknya kemudian menari di bawah tetes air, tubuhnya bercerita bagaimana seorang wanita bisa menjadi penawar dahaga dan resah para pria. Ia menari dan tak kunjung berhenti. Selang beberapa saat kemudian, ia duduk dan memeluk lututnya erat, kedinginan. Aku menatapnya dengan gemetar. Tubuhku sudah gemetaran. Ingin rasanya aku berlari ke bawah dan memaksanya menari lagi untuk beberapa saat. Aku ingin ia menari sampai getarku berhenti.

Gadisku masih duduk dengan posisi yang sama saat ada seorang pria yang menyambanginya. Pria itu berlari dengan kencang dari seberang jalan kemudian mendekap gadisku dengan erat seakan ingin menghangatkan. Gadisku meronta, tubuhnya menggeliat, ia berteriak tapi hujan begitu jahat padanya sehingga suaranya teredam. Pria itu menamparnya, menindih kaki Gadisku, dan mencengkram tangan Gadisku. Aneh. Gadisku tak menangis. Ia menantap pria itu dengan kedua mata hitamnya. Pria itu menamparnya lagi. Gadisku tetap tak menangis. Pria itu menamparnya lagi kemudian menelanjanginya. Gadisku tetap tak menangis. Baju merahnya digunakan pria itu untuk menyumpal mulut gadis itu. Gadisku ditelanjangi, dipukuli perutnya berkali-kali, dan ia tetap tidak menangis. Pria itu menyatukan tubuhnya dengan gadis itu dengan keras dan memaksanya menari, namun ia tetap tidak menangis.

Aku bisa saja berlari menghajar pria itu dan menelepon polisi, tapi aku enggan. Aku memilih ikut menari dengan segala geram dan sumpah serapah. Setiap pria itu memaksanya menari lebih kencang, aku mendapat kenikmatan yang tiada tara. Aku sudah terbang saat pria itu terus menari di atas tubuh Gadisku. Beberapa saat kemudian, pria itu berhenti menari dan terbang sepertiku tadi. Pria itu terbang beberapa saat, kemudian ia mengenakan bajunya kembali, dan pergi meninggalkan gadis itu dengan keadaan telanjang. Gadisku tak bergerak. Ia seperti tertidur dengan mata terpejam dan mulut yang tersumpal. Aku menutup tirai kamarku lebih rapat. Gadisku mungkin tidur, pingsan, atau mati. Sebenarnya aku masih bisa berbaik hati menolongnya dan menelpon polisi. Akan tetapi, aku enggan. Bukankah semua ini bukan salahku? Aku turut berduka atas segala hal yang menimpanya tadi dan tidak punya andil dalam segala kesialan yang menimpanya hari ini. Kamu mungkin bilang aku kehilangan rasa kemanusiaanku, tapi bukankah hampir semua manusia memang sudah kehilangan rasa kemanusiannya? Lagipula, aku tidak peduli kamu mau bicara apa. Hal yang paling penting adalah aku sudah mendapatkan kenikmatanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s