Aku Ingin Melihatnya Mati

Ada seorang pria yang sudah mencuri hatiku. Ia maha sempurna, menurutku ia adalah Tuhan dari setiap berahiku. Aku mencintainya lebih dari aku mencintai harga diriku sendiri. Dan aku tetap mencintainya meski aku tahu ia tidak akan pernah mencintaiku.

Pria itu tak pernah datang padaku, aku lah yang selalu datang padanya. Entah datang ke rumahnya di kota lain, membawanya pulang dari bar murahan saat ia mabuk, menjemputnya dari stasiun kereta saat mobilnya rusak dan hujan deras, atau siggah ke lantai 21 apartmennya saat ia ingin bercinta dan kehabisan pengaman. Aku selalu ada saat ia memerlukan bantuan. Aku selalu datang meski ia tidak pernah mengizinkan aku masuk ke hatinya barang sebentar.

Pria ini luar biasa pandai. Ia tahu bagaimana cara untuk membuatku mengabulkan segala permintaannya. Aku menuruti semua permintaannya. Mulai dari memberikan ciuman pertamaku, tubuhku, bahkan jiwaku. Aku tidak keberatan sewaktu ia meminta beberapa tetes darahku untuk kekasihnya yang kecelakaan. Aku juga tidak pernah marah setiap ia tidak mengembalikan uang pinjamannya. Bahkan aku tidak marah sewaktu ia meniduriku dan menyebutku murahan setelahnya.

Ia hanya seorang pria biasa. Seorang pria yang tak butuh guna-guna agar aku selalu memeluk lututnya. Kau mungkin menyebutku dungu, tapi menurutku dia yang lebih dungu. Ia membuang cinta tulus dari seseorang yang ia sebut teman dan memilih cinta dari seorang wanita yang diam-diam tidur dengan sahabatnya.

Suatu hari, pria itu datang padaku. Ia datang bersama sepi dan memintaku menanggalkannya. Ia baru saja ditinggalkan kekasihnya. Ya, aku yang maha bodoh ini menerimanya dengan bibir dan tubuh yang terbuka. Setelah ia melabuhkan sepinya, ia pergi lagi. Ia pergi mencari seorang gadis yang bisa ia titipkan hati dan hidupnya. Seorang gadis yang bukan aku.

Aku hanya diam di sudut kamarku dan berdoa agar ia cepat mati. Bukan karena aku benci padanya. Aku ingin dia mati agar bisa datang ke pemakamannya dan melihat siapa yang paling kehilangan dirinya. Entah kekasih barunya, keluarganya, atau aku, perempuan menyedihkan yang ia sebut teman baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s