Aku Keduanya

“Jangan pakai baju terbuka, bahaya”

“Jangan pakai rok rendah, bahaya”

“Jangan naik angkot sendirian, bahaya”

“Jangan manja sama ibumu, kamu harus mandiri”

“Jangan nangis, kamu nggak pantes”

 

Kau tahu, jadi wanita itu sangat melelahkan. Mengapa? Karena jadi wanita itu susah. Terlalu banyak kata jangan. Wanita juga seakan-akan tidak mengerti norma dan perlu diganjar oleh sesama manusia dengan “hal yang sewajarnya”. Mungkin kau belum mengerti, sini aku beri contoh. Anak tetanggaku yang kelas tiga SMA diperkosa hingga hamil oleh tukang nasi goreng yang biasa mangkal di depan rumahnya. Bukannya berduka dan ikut menguatkan korban, tetanggaku yang lain malah mencibirnya dengan kejam “pantesan aja diperkosa, pake bajunya juga pendek gitu.” “Giliran hamil baru kapok pulang malem.” “Bagus dah dia hamil, biar anak gue liat kalo cewek genit bakalan diperkosa. Sukurin punya anak.”.

Orang-orang yang berbicara demikian biasanya adalah sesama wanita, ibu-ibu. Apa orang-orang itu sebegitu bodohnya hingga menyalahkan korban? Apa mereka –yang menyebut dirinya manusia beradab- kehilangan rasa empatinya? Bagaimana jika anak mereka yang diperkosa? Pasti mereka akan membela anaknya dan menyebut pelaku adalah seorang bajingan, lalu menjelaskan “Anak saya pake baju pendek kan karena tuntutan kerja. Lagian bajunya juga nggak pendek-pendek amat. Dia aja yang emang brengsek, gak bermoral.” “Pulang malem kan karena abis ngerjain tugas. Emang dasar Anjing aja itu pemerkosa!” Mereka bisa bicara demikian karena melihat dari sudut pandang korban, bukan sudut pandang orang asing yang bersuara tanpa fakta yang jelas.

Jadi wanita juga banyak sekali aturannya, mulai dari pandangan orang bahwa wanita yang tidak (bisa) hamil sama saja dengan PSK, wanita harus mengurus rumah tangga dan tidak sepantasnya bekerja, wanita harus lemah lembut dan tahu tata krama, hingga pandangan bahwa wanita adalah makhluk lemah yang bukan apa-apa tanpa pria. Emansipasi yang diperjuangkan Ibu Kartini memang melahirkan kesempatan wanita untuk mengenyam pendidikan, tapi, aku rasa, belum bisa menghilangkan pandangan bahwa wanita tidak pantas untuk lebih tinggi dari pria.

Jadi wanita saja susah, apalagi jadi pria. Pandangan “pria adalah makhluk bejat yang tidak bisa menahan nafsunya karena melihat wanita dengan baju minim” membuatku mual. Tidak semua pria punya pikiran yang kotor, Teman. Tidak semua pria lahir dan menjadi seorang pemerkosa.

Selain itu, anggapan pria sebagai makhluk kuat nan perkasa terkadang membuat seorang pria tidak terlihat manusiawi, makhluk tanpa emosi sedih. Aku ingat apa kata ayahku sejak kecil “Jadi laki-laki nggak boleh nangis. Air mata itu haram hukumnya, Brahma. Dan laki-laki tidak boleh tunduk pada perempuan” Karenanya aku kehilangan waktu untuk bermanja-maja pada ibu juga tumbuh tanpa air mata.

Suatu hari, ibu meninggal dunia. Di pemakaman ibu, aku murka sekali terhadap Ayah. Ia tidak menangis. Ia hanya tesenyum sembari tertawa kecil menyambut para tamu yang datang. Aku menampar ayah keras sekali, kemudian membeberkan perjuangan ibu yang mencintainya sebegitu dalam, perempuan yang merelakan waktunya untuk mengurus keluarganya dengan baik, perempuan yang tetap tinggal di rumah meski sang suami berkelana ke berbagai kasur empuk hotel bintang lima di segala penjuru dunia bahkan ditemani wanita-wanita bayaran. Ayah hanya diam lalu membalas tamparanku dengan sangat kencang “Kamu tidak pantas jadi laki-laki, Brahma. Dan itu salah ibumu sendiri karena ia mau menikah denganku. Aku tidak pernah memohon padanya untuk menikahiku. Seorang istri adalah pembantu kepercayaan seorang suami untuk menjaga dirinya juga anak laki-lakinya.” Semoga ibu mengampuni ayah. Semoga Tuhan mau memaafkan seorang pria yang teramat jumawa.

Sungguh aku tak sanggup menjadi seorang pria atau wanita. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk tidak jadi mengoprasi kelaminku dan hanya menggunakan bra setiap malam tanpa menyuntikkan silikon pada dadaku. Aku pria yang menolak jadi seorang wanita. Aku juga wanita yang menolak jadi pria. Aku punya hati sehalus wanita dengan keperkasaan seorang pria. Aku pria sekaligus wanita. Aku keduanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s