Saya Ingin Berhenti Mencintai Teman Sendiri

Saya suka kamu.

Kamu keberatan?

Kalau iya, maaf, saya tak punya kuasa untuk membunuh rasa.

Bukan karena tidak tega, hanya saja saya benar-benar tidak bisa.

Selayaknya binatang, saya juga punya nafsu.

Otak juga tak pernah serasi dengan hati mengenai cinta.

Lagipula, apa yang sebenarnya kamu takutkan dari rasa cinta milik saya?

Kamu tidak perlu takut, Sayang, eh, maksudku Teman.

Sebab memaksa tak pernah ada dalam kamus hidup saya.

Dan meski saya ingin sekali, saya tidak pernah membiarkan tubuh saya bertaut dengan milikmu tanpa permisi.

Apa kamu tahu seberapa sakitnya menyukai teman sendiri?

Mungkin perihnya serupa mengiris nadi, menaburkan garam, dan menyiramnya dengan perasan lemon.

Saya nyaris mati berkali-kali karena menahan sakit, Teman.

Terkadang, saya ingin pergi begitu saja, melepas segala kepura-puraan.

Sayangnya, hati selalu ambigu perihal kamu,

Jadiya saya duduk sebagai temanmu lagi; wanita ceria yang menawarkan diri menjadi muara untuk segala peluh milikmu,

Apa yang saya mau?

Saya hanya ingin berhenti mencintai teman sendiri; kamu.

Desember, 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s