Pulang yang Terakhir

Laki-laki itu tidak suka naik kendaraan pribadi atau taksi. Ia lebih suka duduk di bus atau berdiri di kereta yang ramai. Bukannya ia tidak suka dengan rasa nyaman, tapi kesendirian dan keheningan akan menguncinya dari realita kehidupan yang seharusnya ia kenal sejak lama. Sejak orang tuanya masih ada.

Banyu melihat jam tangannya. Sial, ia terlambat dua menit dan pintu keretanya sudah tertutup tepat saat ia melangkah ke peron. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung mengucur dengan deras di keningnya. Mendiang ayah dan ibunya pasti akan menangis jika melihat anak semata wayangnya harus menjalani hidup yang berbeda seperti dulu. Banyu melihat jam tangannya sekali lagi. Kereta selanjutnya akan tiba dalam waktu sepuluh menit lagi.

Pukul delapan kurang lima menit. Banyu perlu berlari ekstra keras agar tidak terlambat sampai ke kelas. Sebenarnya ia bisa saja naik ojek, tapi mengeluarkan uang sepuluh ribu sama saja mengurangi jatah makannya dalam sehari. Ia berlari dengan kencang kemudian melompati dua anak tangga sekaligus. Beruntung dosennya belum datang. Dengan perlahan, ia mencoba mengendalikan napasnya yang terengah sembari mengeluarkan ponsel dan buku pelajarannya.

Ada satu pesan yang diterimanya sejak tujuh menit lalu.

Kamu apa kabar, Mas? Kapan mau pulang? Eyang Uti kangen.

            Banyu tersenyum getir membaca pesan itu. Ia sudah tidak punya tempat pulang sejak rumah peninggalan mendiang orangtuanya dijual untuk membiayai kuliah dan hidupnya sehari-hari. Ia sudah tidak punya tempat pulang saat kakeknya memutuskan untuk mengusirnya karena dirinya menolak perjodohan dengan cucu temannya dan enggan kuliah di Belanda. Ia juga sudah tidak punya tempat pulang saat kekasihnya yang sudah ia pacari selama empat tahun meminta pisah ketika uang sudah tidak melekat padanya.

            Satu pesan dari neneknya membuat kenangan serta ingatan membuat sesak dadanya. Ia ingin jam kuliah segera berakhir. Ia ingin lekas duduk atau berdiri di kereta yang ramai. Banyu ingin mengamati sejuta cerita kehidupan yang bisa terjadi dalam hidup dan belajar dari sana. Entah melihat seorang ibu dan anak yang kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang, memandangi letihnya pria paruh baya sehabis mencari rupiah sembari memikul bakul jualan atau menjinjing tas kerja, menatap sendu dan binar bahagia dari manula yang duduk memangku cucunya, atau melirik bayi yang bisa menyusu dengan rakus pada ibu mereka dengan iri.

            Sungguh, dalam hatinya, Banyu menyimpan sejuta ingin dan rindunya punya keluarga yang menyayangi dirinya dengan tulus. Ia ingin sekali pulang ke manapun untuk memuarakan gundahnya. Galaunya perlu dilabuhkan ke suatu tempat agar ia bisa mengambil bahagianya lagi.

            Banyu turun di stasiun terakhir yang ia tidak tahu namanya. Pria itu ingin berkelana. Seakan ada yang menarik perhatiannya, ia memandangi kolong kereta. Kereta akan segera berangkat dan seekor anak kucing terperangkap pada tanah yang berlubang kecil. Banyu berlari lagi. Ia merasa kakinya bertambah ringan. Mungkin puasa hari ini membuatnya turun beberapa kilo. Anak kucing itu bisa ia selamatkan tepat saat kereta akan bergerak. Banyu merasa ada cairan merah yang mengenai tangannya kemudian ia melihat terang meyilaukan matanya. Banyu menemukan pulangnya yang terakhir di bawah kolong kereta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s