Aku Sudah Beli Gembok Agar Kau Tak Bisa Masuk Lagi

“Aku kira, satu pertemuan cukup membuatmu jatuh cinta…”

Ada seorang pria yang pernah singgah di beranda rumahku waktu hujan deras. Ia datang tanpa permisi untuk berteduh sembari menawarkan kehangatan lewat matanya yang sehitam arang. Genangan air di sekitar rumahku menahannya tinggal cukup lama, cukup untuk memberikan hatiku padanya.

Sayang, Bapak RT yang maha pandai itu sanggup menyurutkan banjir dengan waktu yang sangat cepat, dan aku merasa kehilangan tepat saat ia pergi dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Setelah kepergiannya, aku jadi panas dingin. Ibu mendadak kelimpungan karena sebelumnya aku terlihat baik-baik saja, pun tidak kehujanan.

Ibu tidak tahu bahwa aku telah mencuri diam-diam dan merasa bersalah. Aku mencuri dengar setiap umpatan yang ia lontarkan pada hujan sembari berterima kasih pada hujan yang mengenalkan aku padanya, mencuri pandagan lewat celah gorden untuk memperhatikan apa yang ia lakukan selain duduk dan menghisap rokoknya, mencuri kesempatan untuk merasakan kulit tangannya sewaktu meletakkan teh manis hangat untuknya, dan aku mencuri bibirnya yang kehitaman lewat gelas teh yang diminumnya.

Tujuh hari telah lewat dan aku masih panas dingin. Aku yakin pria yang lewat setiap sore itu akan berteduh lagi jika hujan turun. Sayang, hujan sepertinya berkhianat padaku. Ia tidak turun meski sudah seminggu.

Setelah berpuluh-puluh hari, hujan turun lagi. Pria itu pun datang berteduh di beranda rumahku. Sayang, bara di mata arangnya sudah menyala untuk gadis manis yang ikut diajaknya berteduh.

Hatiku patah. Aku kira, satu pertemuan saat hujan tempo lalu sanggup membuatnya jatuh cinta, seperti aku yang mencintainya secepat itu. Aku kira, setelah mendapatkan kenyamanan pada sebuah tempat singgah, ia akan betah dan memutuskan untuk tinggal selamanya. Aku kira, cinta sebegitu sederhananya hingga lupa akan sakit yang mungkin tiba. Aku kira, hujan tidak hanya mengenalkan kami tetapi juga menyatukan.

Setelah kedatangannya yang terakhir, aku memutuskan untuk membeli gembok di pasar dan memagari rumah kemudian menguncinya. Aku juga memagari hatiku dan menguncinya agar cinta tidak bisa masuk tanpa permisi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s