Jasmijn

“Sahabat memang harus saling menjaga, namun seharusnya tak saling cinta”

            Bukan. Ini bukan tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan.

            Bukan. Ini bukan tentang cinta dengan saudara sekandung.

            Bukan. Ini bukan tentang hati yang patah karena menyerah.

 

            Ini tetang cinta dua anak manusia yang dipisahkan takdir.

            Ini tentang semesta yang berkhianat pada keduanya.

            Ini tentang sahabat yang tidak boleh saling cinta tapi harus saling menjaga.

 

***

Belanda, Januari 2014

Seperti kebanyakan anak yang terbiasa dengan iklim tropis, aku sangat suka membayangkan rasanya melalui musim dingin panjang. Menghayalkan suasana putih yang damai dan menenangkan adalah hal yang aku lakukan sepanjang perjalanan belasan jam. Aku kira lima jam transit layover di Changi dapat terbayar begitu tiba di Schipol. Ya, perkiraanku salah. Seluruh sendiku sudah terasa ngilu sejak detik pertama merasakan udara dingin Belanda. Tidak ada salju meski udara sudah minus sekian derajat celcius.

 Aku meniup buku-buku jariku sembari mencari sarung tangan sialan yang diberikan ayah dalam perjalanan ke bandara kemarin malam. Bagus sekali. Sarung tangan itu tidak ada di tas ataupun di kantung jaket. Mungkin saja terjatuh di pesawat. Aku baru saja hendak beranjak ketika merasa seseorang menarik tas tanganku.

Seorang pria berambut hitam dengan bingkai kacamata berwarna serupa lah yang menarik tasku. “Aku rasa kamu orang Indonesia. Jadi aku berbicara menggunakan bahasa Indonesia saja. Apa ini kepunyaanmu? Kamu meletakkannya di pangkuanku sewatu tertidur di pesawat.”

Aku terdiam sebentar dan memastikan kalau dia adalah pria yang duduk di sebelahku setelah transit di Singapura. “Ya, aku orang Indonesia dan itu kepunyaanku. Terima kasih.”

Pria itu tidak kunjung pergi meski telah mengembalikan barangku. Ia bahkan tidak juga pergi ketika aku telah selesai mengenakan sarung tanganku.

“Ada apa?” tanyaku.

“Ke mana tujuanmu?”

  Aku mengernyitkan dahiku.

Ia tersenyum memaklumi kebingunganku. “Aku tidak tahu ke mana tujuanmu, tapi kalau kamu berencana pergi ke Leiden, kita bisa patungan naik taksi atau pergi naik metro bersama. Aku tidak punya penjemput, belum paham naik metro, dan tidak punya rencana untuk tersesat di hari pertama. Percayalah aku bukan orang jahat. Aku hanya anak manusia yang berencana menghemat beberapa puluh euro.”

Mungkin karena terlalu dingin, takut tersesat, dan takut kehabisan uang sebelum waktunya, aku mempercayakan hari pertamaku di Belanda padanya; pada pria yang bahkan belum aku ketahui namanya. “Baiklah. Ayo kita cari taksi dan berbagi tagihan!” jawabku semangat sambil tertawa kecil.

Ia mengambil alih koperku dan berjalan lebih dulu.

Seakan tidak perlu merasa takut kepada siapapun di dunia ini, aku tersenyum dan berjalan di belakangnya.

Selama perjalanan menuju Leiden, kami bertukar cerita. Selain berkuliah di kampus yang sama dan tempat tinggal yang berdekatan, ia punya nama serupa dengan ayahku, Cakra. Kebetulan yang menyenangkan karena keduanya memiliki kepribadian yang tak jauh beda. Dan entah mengapa, pria ini membuatku merasa tidak perlu takut untuk hidup berbulan-bulan di tempat yang jauh dari rumah.

Leiden, Februari 2014

Buku baru ini sudah hampir habis dibaca. Tujuh puluh menit berlalu dan sahabatku belum tiba. Entah apa yang ia kerjakan selepas kuliah tadi. Aku mendengus sebal. Lagi-lagi ia terlambat, padahal semalam ia yang memohon agar aku mau menemaninya makan siang selepas belajar. Pukul 13:25. Demi Tuhan, jika pria itu tidak datang dalam lima menit ke depan, aku akan meninggalkannya dan makan sendirian

Sudah jam setengah dua. “Mijn factuur aub?” ucapku sambil melambaikan tangan ke arah pramusaji yang kemudian dibalas anggukan olehnya.

Dank u wel, mevrouw.” Ucapnya setelah aku membayar tagihanku.

Sepanjang perjalanan dari café, aku mendengar ada orang yang meneriakkan namaku samar-samar. Aku ingin menoleh tapi takut salah orang dan berujung malu. Ada banyak orang yang bernama sama di dunia ini, bukan? Aku hampir berteriak ketika tasku ditarik seseorang.

“Wacht op mij!” ucapnya terengah-engah.

Aku menaikkan alis kananku, enak saja dia minta ditunggui setelah membuang satu setengah jam milikku. “Nee.”

Cakra masih mengatur nafasnya kemudian berkata “Aku minta maaf karena membuatmu menunggu.”

“Tolong tambahkan kata lama di belakangnya.” Sahutku kesal.

Bukannya memohon maaf lebih tulus, ia malah tertawa kecil. “Baiklah, Mel, aku minta maaf karena sudah membuatmu menunggu lama.”

Cakra mungkin sudah tahu jika ia tidak perlu menjelaskan apapun untuk mendapatkan maafku. Aku memang tidak bisa marah terhadapnya, terutama setiap ia menatapku lekat-lekat. Lagipula, aku memang tidak kesal atas keterlambatannya. Kepergianku dari café disebabkan oleh rasa lapar yang tak sanggup lagi kutahan.

Senyumku mengembang setelah Cakra berkata bahwa ia akan mengajakku makan di Selera Anda dan Soetenso sebagai permohonan maafnya. Selera Anda adalah rumah makan yang menyediakan makanan Indonesia. Letaknya di Leiden. Aku suka tempat ini karena cita rasanya yang paling dekat dengan rasa asli Indonesia, bukan cita rasa Indonesia yang disesuaikan dengan lidah orang Belanda. Selera Anda menyediakan berbagai menu makanan Indonesia, seperti rendang, semur, telur balado, dan masih banyak lagi. Lauk dan sayurnya bisa dipilih melalui etalase kaca. Ya, lauk-pauknya diletakkan di atas piring kotak besi dan dipajang di etalase setinggi dada. Satu porsi nasi dengan dua lauk dan sayur dihargai 10.48 euro. Sedangkan Soetenso adalah salah satu kedai es krim terkenal di Leiden yang menjual berbagai varian rasa.

“Terima kasih karena sudah mengenyangkan aku hari ini, Ka. Kalau seperti ini, aku tidak akan keberatan jika kamu terlambat terus-terusan.” Ucapku sambil menandaskan satu scoop es krim vanilla.

Cakra hanya tertawa kemudian menarik kepalaku dan mengusap sudut bibirku dengan jempolnya. “Bekas es krim.”

“Oh.” Usapan itu membuat aku kegerahan meski udara dingin masih menususk tulang. Hari itu, di tengah musim dingin, untuk pertama kalinya aku merasa tidak kedinginan dan tidak ingin pulang.

Leiden, Maret 2014

Baru tiga bulan mengenal Cakra dan aku merasa sudah mengenalnya sebaik aku mengenal diriku sendiri. Ia suka sekali makan buah tapi tidak suka terhadap buah yang sudah diproses ataupun diolah; buah kering, keripik buah, jus, dan sebagainya. Ia juga tidak pernah makan di pagi hari. Sarapannya hanya segelas kopi hitam tanpa gula dan segelas susu sapi putih. Setiap siang ia hanya mau makan nasi atau pasta dengan ikan, daging sapi tanpa lemak, atau dada ayam yang juga tanpa lemak tentunya. Ia juga hanya mau makan sayuran atau buah-buahan dan satu potong roti tuna gandum pedas di malam hari. Agar sixpack di perutnya tidak berubah menjadi bukit besar layaknya perutku, kata Cakra sewaktu kutanya mengapa selalu makan yang sehat-sehat.

Aku juga merasa Cakra sudah mengenalku dengan baik. Setiap kami sarapan bersama, ia selalu memesankan aku teh susu dengan dua sachet gula dan setangkup kaas brodje. Ya, meskipun ia akan berceloteh tentang diabetes dan diam-diam meminta pramusaji mengganti gula tebu dengan gula rendah kalori. Selain teh susu dan roti keju, ia juga tahu aku tidak suka kupu-kupu.

“Kenapa kamu harus takut pada kupu-kupu, Mel? Mereka kan lebih kecil. Kalau pun kamu tidak tega membunuhnya, cukup diusir saja pakai sapu atau benda apapun. Mengerti?”

“Ya mana aku tahu alasan dibalik ketakutanku. Tidak. Aku tidak mengerti dan tidak mau mengerti, Ka. Aku kan bukan kamu yang tidak takut pada apapun.”

Cakra tersenyum kemudian merengkuhku. “Kata siapa aku tidak takut pada apapun? Aku takut akan satu hal, Mel; Kehilanganmu.”

Badanku lemas dan kemudian aku tertawa hambar menutupi kegugupanku. Setelah itu, aku nyaris jatuh pingsan saat tahu ia tak kunjung melepaskan rengkuhannya meski sudah lewat semenit.

Keesokan harinya, ia memintaku menemaninya bertemu seseorang. Aku dikenalkan pada seorang Gadis bernama Annisa, calon pacar Cakra. Ia wanita yang cukup anggun dan terlihat ramah. Aku tidak bisa mengingat isi percakapan kami. Yang jelas, aku merasa sakit jantung selama pertemuan itu. Dadaku nyeri mendadak tanpa sebab.

Den Haag, April 2014

Di malam Jumat pada minggu terkakhir April, Cakra mengajakku pergi ke Den Haag untuk menikmati festival tahunan Belanda yang meriah, Koningsdag. Festival Koningsdag adalah perayaan yang digelar pada 27 April untuk memperingati hari kelahiran raja Belanda. Akan tetapi, jika ulang tahun raja jatuh pada hari Minggu, festival itu akan dimajukan satu hari, seperti perayaan tahun ini.

Koningsdag membuat Belanda menjadi sebuah pasar bebas dan lautan oranye yang tidak berhenti hingga larut malam. Barang-barang baru dan bekas atau makanan dan minuman yang dijual di festival ini sangatlah murah. Satu gelas bir bahkan hanya dihargai 2.5 euro.

Kami menyisiri kota sambil menikmati berbagai camilan. Mulai dari Waffle, es krim, pasta, hingga gado-gado. Baiklah. Sejujurnya hanya Cakra yang -mencintai memakan makanan sehat rendah kalori itu- makan gado-gado, tapi karena dia sudah membayar semua makananku, anggap saja ia juga ikut menikmati. Menikmati kesenanganku.

Dua belas gelas bir dalam gelas plastik dan sebuah ciuman tengah malam yang membakar gairah. Cakra mengenalkan aku pada surga dengan menyelimuti tubuhku dengan tubuhnya sendiri. Kulit kami bersentuhan tanpa penghalang. Aku sadar bahwa bukan hanya Belanda yang mengalami musim semi, tapi aku pun. Perasaan itu sudah tumbuh sejak lama dan semakin berbunga-bunga.

Di hari Minggu, aku dibangunkan oleh jemari yang berjalan-jalan di atas dadaku. Aku mengerang sambil menahan sakit kepala dan mencoba bangun. Ia di hadapanku, melarikan jari-jarinya di tubuhku dan tersenyum dengan senyuman yang sama; senyuman semalam. Kami bercinta lagi hingga letih. Aku tahu, persahabatan kami tidak akan pernah sama lagi. Tidak sekarang ataupun nanti. Dan aku tidak keberatan.

“Mel.” Panggilnya saat aku masih terengah.

Aku tidak menyahut, memilih memainkan ujung rambutnya yang keriting, dan menghirup aroma after shave yang melekat di kulitnya.

“Aku mau membuat sebuah pengakuan.”

Aku diam dan menunggu. Melihatnya tak kunjung melanjutkan aku mulai bersuara. “Apa, Ka?”

Cakra menarik tanganku yang masih berada di rambutnya dan meletakkan tanganku di atas dada telanjangnya. “Aku tidak pernah suka Annisa. Ia adalah anak teman ibuku yang berkuliah di Leiden. Diam-diam, kami telah dijodohkan orang tua masing-masing.”

Annisa. Aku bahkan lupa jika ia calon kekasih Cakra. Aku sudah hampir menangis karena merasa bedosa, dan kemudian Cakra menatapku dan berkata. “Tenang saja. Aku dan Annisa sudah berakhir sejak dua minggu lalu. Aku sadar jika aku mungkin tak akan pernah bisa menyukainya.”

Aku menghembuskan napas lega. “Kenapa memangnya?”

“Hmmm. Aku rasa hatiku oleh seorang wanita sewaktu pandangan kami bertemu di udara panas Jakarta.”

Badanku menegang. Aku kira Cakra akan mengatakan bahwa gadis yang dicintainya itu adalah gadis yang menemaninya melintasi benua sejak beberapa puluh hari lalu.

“Gadis itu duduk di ruang tunggu Soekarno Hatta sendirian. Telinganya tersumpal earphone dan matanya tidak pernah lepas dari buku tebal. Aku tidak menyangka jika ia akan berada dalam satu pesawat yang sama denganku. Kami duduk di satu baris yang dipisahkan oleh beberapa bangku, aku di pojok kanan dan ia di pojok kiri. Sepanjang penerbangan Jakarta-Singapura, ia tidak juga menyadari pandangan mataku yang tak kunjung lepas menatapnya. Matanya terus saja terarah pada buku. Aku sadar bahwa aku tak bisa mengajaknya bicara, malah mungkin tidak bisa melihatnya lagi selepas penerbangan itu. Lalu, takdir sepertinya menuntutku untuk berada di dekatnya. Ia duduk di sebelahku sewaktu penerbangan kami ke Belanda. Lal..”

“Kita pernah berpapasan di Soekarno?” Tanyaku memotong pengakuannya. Aku penasaran. Seingatku, aku belum pernah melihatnya sebelum duduk bersebelahan di pesawat menuju Belanda dari Singapura.

Cakra tertawa lebar. “Memangnya aku bilang gadis itu kamu?”

Aku mendengus kemudian menjambak rambutnya lagi.

“Kamu mau lagi? Aku baru tau kamu cukup hardcore.”

Pipiku memerah mengingat bahwa semalam kami saling menjambak di tengah lenguhan.

“Baiklah. Aku lanjutkan lagi. Jangan memotong ucapanku! Lalu, sepanjang perjalanan menuju Belanda dari Singapura, gadis itu terlelap. Sewaktu ia tertidur, tanpa sadar sarung tangan yang ada di gengamannya jatuh kepangkuanku. Ia tertidur sangat lama dan baru bangun saat pramugari menyediakan sarapan. Selepas makan, ia membaca buku lagi dan tak lama kemudian pesawat kami mendarat di Schipol. Aku bukannya tak ingin mengajak dirinya bicara. Hanya saja kesempatan tak pernah datang. Aku telah kehilangan gadis itu ketika semua orang sibuk menurunkan bawaannya dari kabin. Ya, ia cepat sekali menghilang. Anehnya, kami bertemu lagi di salah satu sudut Schipol. Ia terlihat mencari-cari sesuatu sambil merutuki dinginnya udara. Aku pun sadar bahwa gadis itu kedinginan dan benda yang dicarinya adalah sarung tangan yang ada di saku jaketku. Selepas aku mengembalikan sarung tangannya, aku mengajaknya berbagi tagihan taksi agar punya kesempatan untuk tahu di mana dia tinggal. Beruntungnya, kami satu tujuan dan ia mau berbagi tagihan. Setelah berbagi taksi, kami mulai berbagi cerita, dan sekarang kami tampaknya mulai berbagi cinta. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya, tapi aku harap ia merasakan hal yang serupa. Untuk mejawab pertanyaanmu, iya, kita pernah berpapasan di Soekarno Hatta, sewaktu kamu hendak menyebrang dan aku sedang menurunkan koper dari mobil.”

“Kenapa kamu tidak langsung mengembalikan sarung tanganku di pesawat?”

“Karena aku tidak punya kesempatan bicara dengannya. Gadis itu seperti kerbau, Mel. Ia hanya tidur selama belasan jam.”

Aku menjambaknya lebih keras dari sebelumnya. “Enak saja! Ka, gadismu juga punya perasaan yang serupa. Meski tidak seromantis kisahmu, ia juga mencintaimu tanpa tahu kapan segalanya bermula.”

Cakra tidak membalas ucapanku. Ia hanya memelukku erat sembali menciumi kepalaku berkali-kali.

Bersambung.

Advertisements

3 thoughts on “Jasmijn

  1. Selalu senang dengan penggambaran yang ditulis Krisna disetiap adegan di cerpen ini. Diksi-diksi yang digunakan sangat pas. Dan, kalimat pembuka dalam cerpen ini bisa menggugah para pembacanya. Mungkin, satu yang buat bingung. Mengapa judulnya Jasmin? Sedangkan nama tokoh pertama adalah Melati. Itu bisa menjadi pertanyaan para pembaca agar terus memantau kelanjutan cerpen ini. Terus semangat, Krisna, Ditunggu cerita selanjutnya 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s