2015

“Terima kasih untuk semua orang yang bersedia memuat dan membaca tulisan ini. Semoga kalian senantiasa bahagia.”

Aku Ditipu

Tolong!
Aku ditipu tadi pagi.
Pelakunya seorang pria bersama puluhan balon yang diikat di sepeda tuanya.
Kata anak kampung sebelah namanya adalah penjual kebahagiaan.

Ini bukan masalah kembalian yang kurang.
Pria itu sudah menukar hatiku dengan beberapa balon lucu dan harapan seadanya.
Ketulusanku ditukar dengan ketidakpastian.

Sekarang, aku panas dingin dibuatnya.
Ih! Jangan ikut kelimpungan.
Cari saja pria itu dan bawa padaku!
Paksa ia menambah kembalianku dengan mas kawin atau sebuah kecupan.
Kalau ia mengelak, suruh ia mengembalikan hatiku.

Apa?! Ia memilih pergi dan menghilang?

Kawan, carilah ia lagi! Kali ini sebagai tersangka.
Hatiku memang dikembalikan, tapi telah dikoyaknya hingga terasa mau mati.
Penjarakan dia! Tuduh saja sebagai pembunuh.

Jangan anggap aku gila, cinta yang berkata demikian, dan aku hanya seorang pencerita.

Cerita Gendut

Kata orang, aku gendut.
Sangking gendutnya, aku perlu membayar dua kursi kalau naik angkot.

Kata orang, aku gendut.
Karena gendut, aku tak kunjung dapat pacar.

Kata orang, aku gendut.
Gendut membuatku memikul beban hidup yang lebih berat dari orang kebanyakan.

Kata orang, aku gendut.
Tapi aku tak percaya.
Toh hidup bukan hanya perkara duduk sempit di angkot, pacar, atau sekadar memikul beban.
Sudahlah! Aku mau makan lagi.

Kawan dan Dua Puluh Delapan

Ini adalah sebuah pesan.
Pesan dari seorang teman yang sedang merasa kesepian.
Pesan ini tentang rindu yang sedang diporak-porandakan.
Pesan ini tentang sejuta mimpi yang didoakan.

Apa kabar, kawan?
Masih ingatkah kau tentang ayam penyet beserta bakwan?
Atau tentang kopi mewah dan uang seribuan?
Atau tentang sikat gigi yang hilang dan anak manis yang mudah kepanasan?

Apa kabar, kawan?
Ada apa gerangan?
Tidakkah kau merasa waktu adalah penyebab kehilangan?

Apa kabar, kawan?
Apa yang paling kau dambakan?
Doa baik yang terkabul atau cita-cita yang baru bermunculan?

Apa kabar, kawan?
Apa ada yang lebih membingungkan dari tanggal dua puluh delapan?

Apa kabar, kawan?
Jangan lupa ingat kami yang selalu berdoa agar kau senantiasa bersama kebaikan.

Kereta

Aku harap kereta tak pernah datang.
Agar kau punya alasan untuk tak pulang.

Aku harap kereta tak pernah datang.
Agar kau tak bisa bertemu kekasihmu yang tinggal di kota seberang.

Aku harap kereta tak pernah datang.
Agar aku punya alasan untuk sekadar duduk di sampingmu dan berbincang.

Aku harap kereta tak pernah datang.
Agar cerita ini tetap ada dan selalu terulang.

Aku harap kereta tak pernah datang.
Agar kau tak pergi dan menghilang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s