Pelacur Bukan Wanita Murahan

“Sesekali berbagi kesedihan tiada salahnya. Barangkali ada di antara kalian yang lupa bahwa bahagia punya batas waktu atau jeda. Selamat mengingat bahwa kalian tentu akan mengalami kesedihan dalam bentuk apapun.”

Apa yang akan kau lakukan saat kematian datang? Ya. Aku tahu kau pasti mati. Maksudku, apa yang akan terjadi selepas kamu mati. Aku hanya ingin tahu apa kamu akan masuk neraka –bisa juga surga- atau hanya terbujur kaku di dalam tanah? Jangan marah atau menganggap aku gila. Aku hanya ingin tahu. Dan berhentilah berpikir jika aku sudah mati. Aku belum mati, lebih tepatnya belum siap untuk mati.

Sebenarnya, aku punya serentetan alasan untuk mati. Mulai dari diperkosa tetangga, dijual oleh bajingan yang menikah dengan ibuku, menjadi pelacur, dihujat oleh orang sekampung, hingga dianggap murahan. Kau mungkin menganggap aku sebegitu menyedihkan dan tidak pernah bahagia sama sekali. Meskipun aku tidak menyangkalnya, pada kenyataannya itu tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan definisi bahagiaku yang begitu sederhana, aku pernah bahagia di tengah derita. Kebahagiaanku beragam: orgasme, mendapat pelanggan tampan –biarpun beberapa di antara mereka tidak hebat di ranjang-, mendapat uang lebih, saat aku tahu aku tak hamil; menstruasi, atau saat aku mengenal seseorang yang masih menganggapku manusia layaknya manusia.

Banyak yang bilang aku hina, menjijikkan, ada juga yang bilang aku adalah ratu neraka. Aku binggung. Mereka -yang meyebut aku demikian dan betingkah layaknya Tuhan- itu dungu atau tolol? Aku tak tahu letak rugi pekerjaanku untuk kehidupan mereka. Toh kalau aku mati nanti, aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku sendiri dan tidak bisa mengemis untuk diselamatkan oleh mereka. Jadi, untuk apa repot menghinaku?

Rasanya aku ingin meluruskan dua hal. Pertama, pelacur adalah salah satu penyedia jasa yang dibutuhkan umat manusia. Cobalah berpikir sejenak. Bagaimana cara orang yang tidak punya pasangan mampu menyalurkan kebutuhan seks-nya? Beberapa orang yang punya pasanganpun butuh jasa ini. Hal tersebut guna menghindari hancurnya rumah tangga mereka, berkenaan dengan masalah kepuasan. Meskipun seks bukanlah satu-satunya hal yang mampu membuat rumah tangga harmonis, kepuasan dalam seks memiliki peran yang cukup penting. Kedua, aku tidak pernah menggoda. Entah itu pria perjaka, duda, atau suami orang. Pelangganlah yang datang padaku, bukan aku yang mencari mereka. Jadi, berhentilah menyebut aku murahan. Aku memang dibayar untuk memuaskan, namun bayaranku tidaklah murah.

Tanpa perlu mengingatkan aku tentang dosa dengan dalil agama, aku minta kalian memperlakukan aku layaknya manusia. Aku hanya minta diperlakukkan layaknya tetangga yang memiliki profesi berbeda.

Bunga.

Advertisements

5 thoughts on “Pelacur Bukan Wanita Murahan

  1. Krisna, rangkaian kata2nya indah dan bagus. Ya.. cukup asik dibaca sih. Ga picisan. Cuman bahasannya agak2 gitu. Sebenernya mau acung jempol, tapi takut ikutan di hujat nih hehe. Keep going deh semangat!

    Like

    1. Hallo, Mega! Terima kasih untuk komentarnya. Membahas soal seks memang perlu, terlepas dari banyak pihak yang merasa kurang nyaman. Bukankah melihat permasalah dari satu sisi yang berbeda itu perlu? 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s